16 November 2011

Bias Pagi

Pagi ini sepeti pagi yang lalu kepala ku terasa berat. Secara semalam tidur tak lebih dari 2 jam saja dan itu sudah berlangsung lumayan lama.

Ku pandangi kamarku, masih sama seperti tadi saat aku tinggalkan sejenak untuk mencoba melangkah ke alam mimpi. Kertas masih berserakan, komputer masih menyala dan bekas makanan dan minuman masih saja disitu, tak ada perubahan yang berati.

Aku adalah seotang penulis, berusia 25 tahun. Bernama Andy. Yang tinggal disebuah apartemen yang sebenarnya biasa saja tak mewah dan malah seperti rumah susun, aku menyebutnya begitu. Tapi tak apalah, yang penting bisa menjadi tempatku berkarya.


Apatermen yang berada ditempat paling atas dan dari balik jendela aku bisa pandangi pemandangan kota, lalu-lalangnya dan kesibukan masyarakat kota yang buatku jenuh.

Ah apalagi yang haeus aku tulis ini, pikitanku tak bisa mengeluarkan ide - ide yang lain dari pada buku - buku ku yang lalu. Teramat penat aku, ah sudah separo jalan dan tinggal 3 hari lagi, semua harus siap cetak.

Ah dari pada aku pusing dan semakin tak menentu, aku coba keluar sebentar dan coba jalan - jalan ketaman dan juga mencari ganjal perut.

*************

Sesampainya di taman, semakin menjadi pusing ku mengingat semua deadline yang tinggal beberapa hari lagi.

Oya sepetinya beberapa hari yang lalu ada penjual bungan disini, kenapa jam segini belum ada nampak disini dia??. gumamku, ah tapi masa bodoh lah.

Tapi sebenarnya bukan karena tukang bunga itu yang gak ada. Tapi seorang perempuan yang biasa duduk dibangku taman ini.

Dia seorang perempuan, rambutnya panjang dan wajahnya cantik, aku urung menanyakannya, kenapa setiap bertemu dia selalu mengenakan bahu serba putih, ah aku kira dia memang penyuka warna putih dalam gumamku.

Dia memang tak banyak bicara, mungkin hanya sepatah dua patah kata yang keluar dari bibir indahnya. Tapi tak tahu mengapa setelah bertemu dengannya, sering muncul ide yang tak tahu itu memang kebetulan atau bagaimana.

Kami bila bertemu dan hanya saling terpaku dalam diam, tapi dia sepeti bisa tenangkan aku.

Sesaat aku terpaku dalam lamunanku, tiba - tiba tukang bunga yang biasa jualan disini datang. Aku coba untuk menyapanya dan mungkin saja dia tahu kemana perempuan yang bisa duduk di bangku taman ini.

Beberapa hari yang lalu aku pernah berbicara dengannya, penjual bunga yang setengah baya dan kira - kira umurnya 40an ini adalah orang yang tegar, dia pernah menceritakan riwayat hidupnya kepadaku. Namanya Yati, Bu Yati aku biasa menyapanya.

"Bu Yati kok baru datang?? biasanya sudah dari pagi Ibu disini??" sapaku mulai membuka pembicaraan.

"iya nak, tadi ambil bunga dulu kemaren sempat habis".

"oh gitu aku kira ibu sakit??" balasku.

"nggak kq nak"

"oya ibu lihat perempuan  yang sering duduk dibangku taman ini??" kucoba tanya bu Yani kali saja dia tahu.

"Siapa?? gak ada yang duduk dibangku taman itu kecuali Andin nak".

"owh namanya Andin?? Iya mungkin Andin itu bu"

"Ya gak mungkin lah kalau dia, orang dia sudah meninggal 7 hari yang lalu kok nak",

"Ah ibu pasti bercanda, orang kemarin dia masih duduk disitu kok, ibu kan tahu saya duduk disitu dengan perempuan???" kagetnya dalam hatiku.

"owh dua hari yang lalu?? iya saya melihat kalau nak andy duduk di bangku taman situ, tapi nak andy kan sendirian".

Damn!!! umpatku dalam hati, masak?? orang 2x aku bertemu dengannya kok kata ibu ini dia sudah meninggal.

"Emangnya dia meninggal kenapa ya bu??"

"gak tau pastinya kenapa ditinggal sama kekasihnya atau gimana, terus 7 hati yang lalu ditemukan gantung diri dipohon itu" kata ibu yani sambil menunjuk sebuah pohon yang lumayan besar tempat bunuh dirinya perempuan itu.

Ahhhhhhhhhhhhhhhhh gumamku, "apalahi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar